
BANDUNG — Radiofarmaka memegang peranan penting dalam perkembangan pengobatan masa kini dan
mendatang. Namun, sumber daya manusia untuk pengoperasian teknologi pendukung radiofarmaka masih sangat
kurang
Radiofarmaka merupakan sediaan farmasi dalam bentuk senyawa kimia yang mengandung radioisotop. Radiofarmaka
merupakan bagian dari kegiatan kedokteran nuklir. ”Beberapa masalah kesehatan yang terkait dengan
radiofarmaka adalah penanganan penyakit kanker, infeksi, inflamasi, dan lainnya serta pengembangan obat,” ujar
Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional Dr Rudi Hastowo dalam seminar di Bandung, Jumat (20/3).
Hastowo mengatakan, saat ini beberapa rumah sakit terkemuka di Jakarta telah memiliki peralatan untuk kepentingan
radiofarmaka. ”Dengan keberadaan alat-alat seperti itu, pengobatan kanker di negara kita tidak kalah dengan
negara tetangga,” katanya. Penambahan perangkat dengan teknologi radiofarmaka, ujarnya, cenderung semakin
meningkat.
”Namun, SDM yang menguasai teknologi ini belum banyak. Tidak mengherankan karena pengoperasian
teknologi ini butuh ahli dan dokter yang paham nuklir. Dibutuhkan juga seorang ahli farmasi,” kata Hastowo.
Dalam praktiknya, radiofarmaka bisa diberikan kepada pasien dengan beberapa cara, seperti mencampur bahan
radiofarmaka dalam obat dan dikonsumsi pasien secara oral. Cara lain adalah radioterapi yang sudah luas dikenal,
antara lain dengan upaya pengobatan pasien menggunakan sinar X.
Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Ir As Natio Lasman mengatakan, pihaknya terus melakukan
pengawasan ketat terhadap semua teknologi nuklir yang digunakan untuk berbagai bidang, termasuk untuk bidang
kedokteran. Pengawasan ketat ini dilakukan untuk menjamin keamanan nuklir bagi masyarakat./ Kompas Cetak








0 Reply to "SDM untuk Radiofarmaka Masih Kurang"
Post a Comment